Mahasiswa Tawarkan Solusi Kebijakan untuk Atasi Polusi Udara melalui Clean Air Policy Competition

Jakarta, 4 September 2026 – Upaya mewujudkan udara bersih membutuhkan kebijakan yang mampu menjawab sumber pencemaran secara terukur dan berkelanjutan. Melalui Biru Voices: Clean Air Policy Competition 2026, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia menghadirkan rekomendasi kebijakan untuk menjawab tantangan pencemaran udara perkotaan yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam memperkuat upaya pengendalian pencemaran udara.

Diinisiasi oleh Bicara Udara, kompetisi bertema “Clean Air for All: Advancing Urban Sustainability Solutions” ini menjadi bagian dari program Biru Voices untuk membentuk generasi muda sebagai Clean Air Advocates yang mampu mengawal isu kualitas udara, menyuarakan kebutuhan masyarakat, serta berkontribusi dalam mendorong lahirnya kebijakan pengendalian polusi udara yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Setelah melalui rangkaian seleksi dan mentoring, sebanyak 10 tim finalis mempresentasikan rekomendasi kebijakan mereka dalam babak final yang digelar di Gedung Grha Ali Sadikin, Kompleks Balai Kota Provinsi DKI Jakarta, pada Kamis, (3/9/2026).

Para finalis memaparkan gagasan di hadapan dewan juri yang berasal dari berbagai latar belakang, yaitu Wibi Andrino, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta; Marulina Dewi, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika; Dara Nasution, Deputy Head of Standing Committee for Tech and Digital KADIN; Julian Aldrin Pasha, Ph.D, akademisi Universitas Indonesia dan mantan Juru Bicara Presiden SBY 2009–2014; Wendy Haryanto, Research Fellow Georgetown SFS Asia Pacific sekaligus Direktur Eksekutif Jakarta Property Institute; serta Dian A. Purbasari, Direktur Yayasan Bakti Barito.

Julian Aldrin Pasha, Ph.D., akademisi Universitas Indonesia dan mantan Juru Bicara Presiden SBY 2009–2014, menilai proses pembelajaran dalam kompetisi penting dalam membentuk generasi muda sebagai Clean Air Advocates.  

“Yang kita saksikan hari ini di sini adalah satu penampilan yang luar biasa, saya kira, dari gabungan bagaimana ide itu bisa dipresentasikan di dalam satu presentasi yang utuh yang melibatkan semua. Seperti yang kita ketahui, kompetisi hari ini kan itu melibatkan beberapa komponen dan itu memang sangat baik untuk memperlihatkan bagaimana public concerns coba diangkat dan coba untuk dijelaskan dan dicarikan solusinya dalam bentuk policy brief,” ujar Julian.

Dian A. Purbasari, Direktur Yayasan Bakti Barito yang juga menjadi juri, mengapresiasi pendekatan kompetisi yang mendorong mahasiswa menghasilkan solusi dan inovasi berdasarkan proses analisis yang konkret.

“Kompetisi ini sejalan dengan komitmen Yayasan Bakti Barito dalam mendorong aksi iklim melalui edukasi. Pendekatan analitis para mahasiswa dalam merumuskan rekomendasi kebijakan yang konkret membuktikan bahwa generasi muda kita bukan sekadar pengamat, melainkan inovator yang siap memberikan kontribusi nyata bagi masa depan udara bersih di Indonesia.” ujar Dian.

Beragam gagasan para finalis menunjukkan bahwa pengendalian pencemaran udara membutuhkan pendekatan lintas sektor. Isu yang diangkat mencakup pembiayaan pengendalian polusi udara, reformasi pajak emisi kendaraan bermotor, integrasi data kualitas udara dan kesehatan, pengendalian emisi industri berbasis data, hingga perlindungan kelompok rentan.

Tim Duarr dari Politeknik Keuangan Negara STAN berhasil meraih Juara 1 melalui gagasan “Dual Track Decarbonization: Menata Insentif dan Disinsentif Pengendalian Polusi Udara di Jabodetabek”. Tim tersebut mengangkat tantangan pengendalian polusi udara yang selama ini masih bertumpu pada regulasi tanpa dukungan insentif dan mekanisme pembiayaan yang memadai, dengan mendorong kombinasi insentif dan disinsentif fiskal untuk memperkuat pengendalian emisi di Jabodetabek.

Sementara itu, Tim APPA dari Institut Teknologi Bandung meraih Juara 2 dengan rekomendasi “Pengendalian Emisi Industri Berbasis Data dan Penataan Ruang di Cekungan Bandung”, yang mengangkat persoalan yang mengangkat persoalan penumpukan polutan di Cekungan Bandung, salah satunya akibat emisi industri yang terperangkap oleh kondisi topografi cekungan. Adapun penghargaan Best Presenter diberikan kepada Sangkan Paraning Dumadi Hamemayu Hayuning Bawana Manunggaling Kawula Gusti] dari [Universitas Gadjah Mada] atas kemampuan mereka dalam menyampaikan dan mempertahankan gagasan kebijakan secara jelas, logis, dan meyakinkan di hadapan dewan juri.

“Proses kompetisi ini menjadi pengalaman berharga bagi kami untuk menguji dan mempertajam gagasan tersebut. Kami berharap ide ini bisa menjadi kontribusi untuk membangun ekosistem kebijakan yang lebih efektif dan berdampak,” ujar Silvia Rahmawati dari Politeknik Keuangan Negara STAN.